Subscribe Us

Header Ads

Religiusitas Umat Ditengah Keterbatasan Pandemi Covid-19 oleh - reviewspa.xyz

Halo sahabat selamat datang di website reviewspa.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Religiusitas Umat Ditengah Keterbatasan Pandemi Covid-19, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Penulis  : Adam Damba Yuda
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL): Dr. Peni Cahaya Azwar, M.M.,M.B.A.,A.k.

UIN – Ibadah merupakan hal yang wajib dilakukan sebagai umat yang taat kepada Tuhan dalam beragama. Ibadah juga dapat menjadi bukti rasa cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Namun, ditengah situasi seperti pandemi Covid-19 ini, aktivitas ibadah pun menjadi seakan-akan terbatasi.

Seperti yang dialami oleh sebagian umat muslim dengan keluarnya himbauan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang peniadaan sholat Jum'at bagi yang berada pada zona tertentu dan diganti dengan sholat zuhur dirumah masing-masing.

Tidak hanya sholat Jum'at, himbauan yang dikeluarkan oleh MUI juga berlaku untuk ibadah sholat lima waktu di masjid. Jadi, umat muslim disarankan untuk melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan di masjid menjadi ibadah yang dikerjakan di rumah masing-masing demi pencegahan penyebaran Covid-19.

Wakil Presiden Indonesia, Ma'ruf Amin juga pernah mengatakan bahwa para ulama-ulama khususnya di negara yang berpenduduk muslim juga melakukan ijtihad untuk menentukan kebijakan yang relevan yang akan diambil pada masa pandemi Covid-19 ini agar dapat menjadi panduan di negara masing-masing bagi para tenaga medis atau umat Islam pada umumnya.

Bukan hanya umat muslim saja yang mendapatkan imbas dari pandemi Covid-19 ini, tetapi beberapa umat agama lain juga tidak dapat melakukan aktivitas ibadah secara normal. Ini membuktikan bahwa dampak dari adanya penyebaran Covid-19 ini bersifat universal atau menyeluruh pada segala aspek.

Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya : "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." Pernah di zaman Rasulullah SAW ketika ada di suatu daerah terkena penyakit thaun atau wabah, Rasulullah memerintahkan untuk mengkarantina diri bagi yang terkena wabah terebut. Menyinggung kembali wabah thaun yang ada pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat yang terjadi di kota Madinah pada tahun ke-6 Hijriyah.

Ini juga dijelaskan dalam Riwayat Bukhari Muslim "Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah SWT terhadap sebagian kalangan Bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu." Dari hadis tersebut juga dapat kita ambil maknanya bahwa wabah itu sudah terjadi di waktu yang lalu. Jika di zaman Rasululah SAW pun ada suatu wabah, pasti Rasululah SAW memberikan solusi bagaimana cara menangani wabah tersebut dan efesiensi ibadah kita di tengah pandemi ini yang dapat juga kita terapkan pada masa sekarang.

Berkaitan dengan hadis tersebut, pemerintah juga mengambil kebijakan selama masa pandemi Covid-19 ini. Diantaranya adalah seperti kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Salah satu kandungan dari kebijakan PSBB tersebut adalah sebagai himbauan untuk melakukan Social Distance dan berdiam diri di rumah masing-masing.

Maksudnya, masyarakat harus melakukan pembatasan sosial terhadap orang lain dan menjaga jarak minimal satu meter. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan untuk berinteraksi dengan orang lain. Tentunya, kebijakan seperti PSBB ini memaksa kita sebagai umat beragama untuk membatasi kegiatan ibadah kita yang berinteraksi secara langsung dengan orang lain.

Tetapi tidak sedikit umat yang beranggapan bahwa dengan adanya pandemi Covid-19 ini, menjadi seolah-olah ada pelonggaran dalam beribadah. Jika tidak dapat beribadah dimasjid, bukan berarti tingkat aktivitas ibadah sebagai rutinitas kita setiap hari menjadi menurun.

Pelaksanaan ibadah di masa pandemi dipusatkan di rumah demi untuk menjaga keselamatan jiwa diri sendiri. Inilah yang menjadi kesempatan bagi kita untuk dapat lebih banyak bermuhasabah diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Seperti yang dikatakan oleh pendiri pondok pesantren Darut Tauhid, Gymnastiar atau AA Gym yang mengatakan bahwa berdiam diri di rumah juga merupakan suatu ibadah dan menghindari kemudaratan adalah hal yang lebih utama.

Diantara hikmah dari adanya pandemi Covid-19 yaitu semakian banyak waktu luang yang kita miliki. Pilihan ada pada diri kita, melakukan sesuatu yang bermanfaat atau lalai dalam cengkeraman dunia. Di dalam agama Islam, manusia dianjurkan untuk selalu melakukan introspeksi diri.

Allah SWT memberikan kita kesempatan yang lebih banyak untuk berpikir, bahwa kita diciptakan di dunia ini adalah untuk mengabdi dan patuh kepada-Nya dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Walaupun kita sedang di uji dengan adanya pandemi Covid-19 ini, kita seharusnya dapat bersyukur dalam setiap situasi dan kondisi.

Bukan malah kufur dengan menyalahkan keadaan. Seperti yang dikatakan oleh ulama besar universitas Al-Azhar Mesir, Maulana Syeikh Yusri Rusydi Sayyid Jabr Al-Hasani, " Sesungguhnya menerima ketentuan Allah, bertawakal kepada Allah dan menyerahkan segala urusan kepada Allah dan rida dengan ketetapan Allah. Semua ini lebih baik dari pada amalan-amalan zikir (lisan) dan amalan yang melibatkan anggota tubuh." Ini artinya bahwa ketika kita rida dan percaya dengan ketetapan yang telah Allah tentukan, maka itu merupakan sesuatu yang baik disisi Allah SWT.

Beberapa waktu yang lalu, kita telah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Perbedaan antara Ramadhan tahun ini dengan Ramadhan sebelumnya sangat terasa. Mulai dari solat Tarawih maupun solat Idul Fitri yang beberapa masjid tidak melaksanakannya, sampai peringatan-peringatan hari besar seperti Nuzul Qur'an yang juga tidak diadakan. Tetapi pada esensinya, kekhidmatan ibadah masih dapat kita rasakan dengan saling berbagi antar sesama umat muslim.

Jadi dengan adanya pandemi Covid-19, bukan malah menurunkan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Sang Pencipta, tapi dengan adanya pandemi ini ibadah kita akan bertambah secara kualitas dan kuantitas karena ada banyak kesempatan dan kelonggaran waktu yang kita punya selama Pandemi ini.

Banyak orang yang kekurangan waktu di waktu siang untuk beribadah karena kesibukannya untuk bekerja mencari nafkah, sehingga mereka hanya meluangkan waktu untuk beribadah di malam hari. Tetapi pada masa Pandemi Covid-19, di siang dan malam hari kita dapat melakuakan aktivitas ibadah lebih banyak.

Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk beribadah di rumah, seperti berzikir, memperbanyak membaca Al-Quran, mendengar tausyiah, maupun bermuhasabah. Sebenarnya, kita harus meluangkan waktu untuk beribadah, jangan beribadah untuk mengisi waktu luang. Ibadah terdiri menjadi dua bagian, ibadah mahdhah dan ibadah ghoiru mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang telah tetap ketentuannya yang dierintahkan kepada Rasulullah SAW.

Untuk dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. dan umatnya, seperti Shalat Fardhu, zakat, dan lain-lain. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang diizinkan oleh Allah SWT. Untuk dilakukan walaupun tidak ada dalil khusus yang memerintahkan agar ibadah tersebut untuk dilaksanakan, seperti sedekah.

Selama masa pendemi Covid-19, selain melakukan ibadah mahdhah, kita juga bisa melakukan ibadah ghairu mahdhah seperti menjadi relawan gugus tugas Covid-19, asalkan dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT. Kegiatan mulia seperti ini dapat bernilai ibadah ketika kita melakukannya dengan keiklasan dan keimanan. Memberi manfaat bagi orang yang membutuhkan merupakan suatu kebaikan yang sangat bernilai.

Tetapi berdasarkan hasil dari pengamatan di daerah tempat tinggal saya, bahwa Pandemi Covid-19 berimbas pada penurunan jama'ah masjid. Padahal protokol pemerintah telah dikeluarkan. Yang menjadi permasalahan adalah, tempat hiburan seperti tempat bermain games dan tempat hiburan lainnya dimana tempat tersebut tidak menerapkan protokol kesehatan malah masih terlihat banyak orang. Tentu fenomena tersebut menimbulkan pertanyan di dalam pikiran saya, apakah di situasi seperti ini meraka masih tidak pernah membaca berita?

Ketika dan setiap kita melaksanakan sholat, selalu diucapkan doa iftitah "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dengan yang demikian itu lah aku diperintahkan. Dan aku termasuk orang yang berserah diri." Di dalam doa tersebut kita mengucapkan bahwa hidup dan mati kita semata-mata hanya untuk Allah SWT. Dimana pun kita berada, kapanpun waktunya, dan bagaimanapun keadaannya hidup kita tetaplah untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jika kita menelaah kembali mengenai Syumul Liyatul Islam yang maksudnya bahwa Islam dapat mencakup segala aspek, hidup kita diatur di dalam Islam. Ketika bangun tidur, sampai ke tidur lagi, Islam mempunyai aturan terhadap tata caranya bahkan di dalam tidur pun telah diatur juga. Pada masa Pandemi Covid-19 ini, apabila kita melihat pada aspek Syumul Liyatul Islam, maka walaupun kita tidak banyak melakukan aktivitas di luar rumah seperti biasanya, kita masih mendapat peluang yang besar untuk mendapatkan nilai pahala.

Apabila setiap yang kita lakukan berdasarkan syariat Islam dan berniat melakukan sesuatu Lillahita"ala, maka In Syaa Allah dengan niat yang ikhlas dan tulus tersebut serta perilaku yang sesuai dengan syariat Islam atau dalam aturan Islam, maka adanya pandemi ini akan menjadikan kualitas iman kita menjadi meningkat dan mulia di hadapan Allah SWT.(uin/LP2M)
—–
Penulis adalah Mahasiswa Peserta KKN dari Rumah (KKN-DR) Angkatan 73 Pandemi Covid-19 Tahun 2020, LP2M UIN Raden Fatah Palembang.

Itulah tadi informasi mengenai Religiusitas Umat Ditengah Keterbatasan Pandemi Covid-19 dan sekianlah artikel dari kami reviewspa.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Post a Comment

0 Comments